PERAN ORANG TUA DALAM MERDEKA BELAJAR

Oleh: Nur Laela, S.Pd.

Guru SDN Bandung 1 Kota Tegal


Menurut Poerwadarminta (1976:250), istilah pendidikan berasal dari kata “didik” dengan memberinya awalan “pe” dan akhiran “kan” mengandur arti “perbuatan” (hal, cara dan sebagainya). Istilah pendidikan ini semula berasal dari bahasa Yunani yaitu “paedagogie”, yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Istilah ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan “education” yang berarti pengembangan atau bimbingan. Dalam bahasa Arab istilah ini sering diterjemahkan dengan “Tarbiyah“ yang berarti pendidikan.

Dalam perkembangannya istilah pendidikan berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja terhadap anak didik oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa. Dalam perkembangan selanjutnya, pendidikan berarti usaha yang dijalankan oleh seseorang atau kelompok orang untuk mempengaruhi seseorang agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup dan penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental (Sudirman, 1984:4).

Dengan demikian pendidikan berarti, segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah dewasa.

Merdeka Belajar adalah program kebijakan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Kabinet Indonesia Maju, Nadiem Makarim. Esensi kemerdekaan berpikir menurut Nadiem, harus didahului oleh para guru sebelum mereka mengajarkannya pada siswa-siswi. Nadiem menyebut, dalam kompetensi guru di level apa pun, tanpa ada proses penerjemahan dari kompetensi dasar dan kurikulum yang ada, maka tidak akan pernah ada pembelajaran yang terjadi.

Pada tahun mendatang, sistem pengajaran juga akan berubah dari yang awalnya bernuansa di dalam kelas menjadi di luar kelas. Nuansa pelajaran akan lebih nyaman, karena murid akan berdiskusi lebih dengan guru, belajar dengan outing class, dan tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi lebih membentuk karakter peserta didik yang berani, mandiri, cerdik dalam bergaul, beradab, sopan, berkompetensi, dan tidak hanya mengandalkan sistem peringkat (rangking) yang menurut beberapa survei hanya meresahkan anak dan orang tua saja, karena sebenarnya setiap anak memiliki bakat dan kecerdasannya dalam bidang masing-masing.

Nantinya akan terbentuk para pelajar yang siap kerjadan kompeten, serta berbudi luhur di lingkungan masyarakat, menurut penulis dari semuanya yang paling berperan dalam lingkungan masyarakat adalah orang tua.

Orang tua adalah pendidik pertama dan utama

Orang tua adalah pendidik utama bagi anak-anaknya. Peran edukatif orang tua begitu penting sehingga tidak dapat digantikan orang lain. Itu sebabnya, tidak tepat jika orang tua hanya menggantungkan pendidikan anaknya terhadap pihak sekolah, guru saja. Dalam keluarga orang tualah pertama-tama yang bertanggungjawab membekali anak-anaknya dengan pengetahuan ajaran agama, moral dan ajaran social bermasyarakat.

Keluarga adalah tempat pertama dimana anak-anak menimba pengalaman pribadi dan agama. Orang tua tidak hanya mendidik anaknya agar lebih pandai tapi supaya mendidik anak-anaknya agar memiliki inisiatif untuk membangun hidupnya sendiri di dunia ini.

Pendidikan sejati meliputi pembentukan pribadi manusia seutuhnya. Anak-anak dididik sedemikian rupa agar mereka mengembangkan bakat-bakat fisik, moral dan intelektual mereka secara harmonis. Tujuannya adalah agar mereka memperoleh tanggung jawab yang lebih sempurna dan dapat menggunakan kebebasan mereka dengan benar dan berperan aktif dalam masyarakat dengan kata lain.

Anak yang tumbuh dalam keluarga dan juga sekolah yang tidak menyediakan situasi belajar yang merdeka seperti itu akan mudah didekati oleh kelompok-kelompok ekstrim sehingga akhirnya terpapar paham ekstremis, baik yang berbasis kepentingan politis, ras maupun agama tertentu. Jadi, kontribusi keluarga untuk pendidikan anak dapat diringkas sebagai berikut: Pertama, bagaimana orang tua berusaha membiasakan anaknya untuk menguasai cara-cara merawat diri, cara berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesama, cara berdoa atau beribadah, dan cara menemukan ilmu pengetahuan dan mengasah ketrampilan yang berguna demi kehidupannya. Kedua, bagaimana orang tua bersikap sehingga mempengaruhi perkembangan karakter anak. Sikap menerima ataupun menolak, menghargai/mencintai ataupun menolak/membenci, serta iba ataupun acuh tak acuh, sabar ataupun tergesa-gesa, sikap melindungi ataupun membiarkan, serta langsung akan mempengaruhi pertumbuhan aspek emosional, intelektual, moral, spiritual dan sosial sang anak. Memang, sangat wajar dan logis apabila pendidikan anak berada di tangan keluarganya sendiri yaitu orang tua.


 

 

 

 

Komentar